Saat ini, Alko telah memiliki jaringan pasar ekspor ke sekitar 11 negara dengan penyerapan kopi hampir 10.000 ton sepanjang 2026.
Sekitar 14.000 petani dari berbagai daerah disebut terlibat dalam jaringan kopi yang didampingi Alko.
Selain dukungan pembiayaan dan akses pasar, Alko juga mendorong petani menerapkan konsep pertanian berkelanjutan.
Petani didorong memperhatikan aspek sustainability, agroforestri, dan traceability dalam proses produksi kopi.
Baca Juga
Suriono mengatakan penerapan skema tersebut dapat menjadi nilai tambah bagi petani ketika kopi dipasarkan ke pasar yang lebih luas, khususnya pasar ekspor.
“Harapannya enggak hanya nanam kopi, tapi juga mulai peduli dengan skema-skema seperti sustainability, agroforestri, dan traceability,” ujarnya.
Khusus di Kabupaten Kerinci, produksi kopi Arabika saat ini diperkirakan mencapai sekitar 950 ton per tahun, sedangkan Robusta mencapai sekitar 8.000 ton per tahun.
Kopi Kerinci sendiri telah dipasarkan ke sejumlah negara, di antaranya kawasan Timur Tengah, Oman, dan Italia.