EKONOMI

Selat Hormuz Memanas, Ekonom Usman Dorong Indonesia Percepat Energi Sawit B50

Penulis : gracak.com | Editor : YNT | 22 April 2026 | 11:03 WIB
    Selat Hormuz Memanas, Ekonom Usman Dorong Indonesia Percepat Energi Sawit B50
Keterangan Foto : Ketegangan di Selat Hormuz akibat konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel mengancam distribusi BBM global serta berdampak pada perekonomian Indonesia.
Gracak.com – Kondisi Selat Hormuz kian memanas akibat konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Ketegangan ini berdampak serius terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur paling strategis dalam distribusi minyak dunia. Gangguan di wilayah ini berpotensi menghambat pasokan bahan bakar minyak (BBM) ke berbagai negara, termasuk Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.
Menyikapi situasi tersebut, ekonom Usman Ermulan mendorong seluruh pemerintah daerah untuk menaati arahan Presiden Prabowo Subianto agar segera memperkuat kemandirian energi nasional melalui pemanfaatan energi berbasis kelapa sawit.
Dorongan ini muncul seiring terganggunya distribusi BBM dunia akibat penutupan Selat Hormuz yang dipicu konflik geopolitik tersebut.
Salah satu langkah strategis yang tengah disiapkan pemerintah adalah implementasi B50, yakni bahan bakar campuran yang terdiri dari 50 persen biodiesel berbasis minyak kelapa sawit (FAME) dan 50 persen solar fosil. Program ini dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Juli 2026 sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM.
Usman menyebut, gangguan pasokan akibat krisis di Selat Hormuz telah menyebabkan lonjakan harga minyak dunia, yang berdampak langsung pada beban ekonomi Indonesia. Kenaikan ini tidak hanya menekan APBN melalui subsidi energi, tetapi juga berdampak luas pada sektor transportasi, industri manufaktur, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Indonesia mengimpor sekitar satu juta barel minyak per hari. Ketika harga minyak dunia naik, beban subsidi energi otomatis meningkat. Ini menjadi tantangan besar bagi perekonomian nasional,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk mandiri energi melalui pemanfaatan kelapa sawit.
“Kita kaya akan sumber daya sawit. Dalam kondisi seperti ini, tidak seharusnya kita terus bergantung pada impor BBM jika bisa memproduksi energi sendiri,” tegas Usman.
Menurutnya, pengembangan energi berbasis sawit tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri. Hal ini akan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.