"Kita tidak tahu, kenapa si ini ditangkap, si itu tidak, padahal kita sudah kita kasih tau juga rumah bandar atau kaki tangan lainnya, tapi mereka (polisi) langsung menghindar," katanya.
Dia hanya berharap, peristiwa Alung ini, menjadi titik awal keseriusan polisi untuk menangkap seluruh bandar dan kaki tangan sabu-sabu di kampungnya, dan membebaskan generasi anak-anak di sana dari belenggu narkoba.
"Kalau tidak segera, begitu anak lahir, dia sudah dihadapkan dengan ancaman narkoba, itu yang kita tidak mau," katanya.
Hal serupa juga diungkapkan oleh tokoh lainnya, sebut saja Omang (bukan nama sebenarnya).
Baca Juga
Omang kemudian menggambarkan detil per detil titik keramaian dan tempat para anak-anak tersebut berkumpul.
Kata Omang, saat malam semakin larut, suasana di kampung itu akan semakin ramai, puncaknya ketika masuk ke dini hari menuju subuh.
"Mulai ramai itu jam sembilan bang, kalau semakin pagi, itu sudah seperti pasar," kata Omang.
Dia mengaku sudah sangat khawatir dengan kampung tersebut. Dia berharap pihak kepolisian untuk bertindak tegas dan tanpa pandang bulu untuk memberantas semua bandar sabu-sabu di sana.
Baca Juga
"Kalau tidak bang, ini akan semakin parah, generasi ke depannya sudah terancam dengan narkoba," katanya.
Dalam cerita kedua narasumber itu, memiliki pengalaman yang serupa soal kondisi di kampung tersebut. Mereka beberapa kali coba kerja sama dengan polisi.