Di empat RT itu, peredaran narkoba tidak terbendung, transaksi sabu-sabu berlangsung secara terbuka, dilakukan di tepi jalan, di lorong-lorong kecil menuju ke dalam perkampungan.
Semua transaksi dilakukan secara bebas, tanpa takut dengan keberadaan orang baru. Doi menyebut, transaksi sabu-sabu, selayaknya orang sedang membeli kacang rebus.
"Semua itu dilakukan di tepi jalan. Mereka tawar menawar di jalan. 'Ada barang gak? berapa?' sudah seperti itu," katanya.
Begitupun di malam hari sekira pukul 22.00 WIB, suasana di kawasan itu mulai ramai. Begitu juga rumah-rumah disana tampak dipisah dengan jalan setapak yang hanya bisa dilalui satu sepeda motor.
Baca Juga
Kondisi jalan nya terlihat berkelok, sebagian bangunan rumah masih terlihat tradisional atau rumah panggung.
Susana di kawasan ini memang terlihat berbeda, lorong-lorong antara rumah ke rumah terpantau sepi, hanya ada di beberapa titik terdapat keramaian.
Dari jalan utama, tepatnya di sebuah warung, tepat beririsan dengan Sungai Batanghari terdapat satu titik keramaian.
Ini menjadi pos pemantauan bagi mereka, untuk pergerakan orang luar atau orang baru yang masuk ke kampung itu.
Baca Juga
Setelah ditelusuri lebih dalam lagi, terdapat titik keramaian lainnya, suasananya sama, di sebuah warung dan banyak anak-anak, remaja dan sejumlah orang tua berkumpul.
Dikatakan Doi, titik keramaian itu merupakan tempat para pemakai, hingga kaki tangan bandar narkoba berkumpul.