Dalam banyak kasus, kata Sukmareni, masyarakat hanya menjadi tenaga kerja atau pelaku lapangan. Sementara modal, peralatan, dan jaringan pemasaran emas berada di tangan pemodal.
Risiko hukum, kecelakaan kerja, dan kerusakan lingkungan justru lebih banyak dihadapi masyarakat.
“Yang pada akhirnya juga mereka tanggung sendiri,” kata Sukmareni kepada Kompas.com.
Menurut dia, eksploitasi PETI membuat lahan dan hutan terus rusak tanpa mempertimbangkan kemampuan lingkungan untuk pulih maupun keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat.
Baca Juga
Sungai yang menjadi sumber air bersih semakin keruh. Lahan pertanian kehilangan produktivitas akibat sedimentasi dan perubahan tata air. Kerusakan hutan dan daerah tangkapan air juga meningkatkan risiko banjir dan longsor.
Dalam jangka panjang, masyarakat menghadapi ancaman kesehatan akibat paparan bahan berbahaya, kehilangan mata pencaharian yang bergantung pada hutan dan sungai, serta potensi konflik akibat perebutan lahan dan sumber daya.
“Keuntungan ekonomi dari PETI umumnya hanya bersifat sesaat, sedangkan biaya sosial, ekonomi, dan lingkungan harus ditanggung masyarakat dalam waktu yang jauh lebih lama,” ujar Sukmareni.