JAMBI, Gracak.com – Tidak ada listrik PLN. Tidak ada jaringan internet yang bisa diandalkan. Air bersih pun bergantung pada hujan.
Namun dari sekolah kecil di puncak perbukitan Kerinci itu, cita-cita justru tumbuh tanpa batas.
“Saya mau jadi dokter.”
“Saya mau jadi guru.”
Baca Juga
“Saya mau jadi chef.”
Suara-suara itu datang dari 12 anak yang bersekolah di SDN 44/III Sungai Bermas, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi.
Sekolah itu berdiri jauh dari pusat kota, di antara kebun kayu manis, kopi dan perkebunan warga. Untuk mencapainya, perjalanan dari lereng bukit membutuhkan waktu sekitar 40 hingga 50 menit.
Jalannya sempit, curam dan berkelok. Sebagian masih berupa kerikil lepas. Di beberapa titik, aspal menghilang dan berganti batu-batuan yang membuat perjalanan semakin berat.
Baca Juga
Tetapi bagi 12 anak itu, jalan tersebut adalah bagian dari rutinitas menuju masa depan.
Pagi di sekolah itu tidak seperti kebanyakan sekolah dasar.