Sulitnya mencari pekerjaan, jauhnya jarak dari pusat perkotaan serta buruknya akses jalan membuat sebagian warga meninggalkan kawasan tersebut.
Kini, tidak lebih dari 25 kepala keluarga yang masih bertahan.
Mereka hidup di tengah perkebunan dan perbukitan, jauh dari hiruk-pikuk kota.
Anak-anak mereka adalah murid SDN 44/III Sungai Bermas.
Baca Juga
Desa itu boleh disebut tertinggal dari sisi infrastruktur. Tetapi anak-anaknya tidak mau disebut tertinggal.
Mereka mungkin tidak memiliki akses digital seperti anak-anak di kota. Sebagian bahkan tidak memiliki telepon pintar.
Namun, mereka memiliki sesuatu yang tidak kalah penting: keberanian untuk bermimpi.
Cita-cita mereka tidak selalu lahir dari apa yang muncul di layar telepon genggam. Sebagian besar justru terbentuk dari pengalaman sehari-hari.
Baca Juga
Mereka mengenal sekolah, rumah, kebun dan jalan terjal yang setiap hari mereka lalui.
Dokter dari Jalan Berbatu