Lapangan kosong. Tidak ada anak-anak berlarian mengejar teman. Tidak terdengar suara gaduh dari kantin atau tangisan karena berebut mainan.
Yang terdengar hanya suara guru dari dalam kelas.
Sekolah itu sepi bukan karena kehilangan murid. Memang hanya 12 anak yang belajar di sana.
Lima anak berada di kelas I, satu anak kelas II, tiga anak kelas III, satu anak kelas IV, satu anak kelas V dan dua anak kelas VI.
Baca Juga
Jumlah yang sedikit itu tidak membuat sekolah tersebut kehilangan arti.
Justru di tempat yang sunyi itulah, 12 anak sedang menyusun bayangan tentang masa depan mereka.
Desa yang Ditinggalkan
SDN 44/III Sungai Bermas awalnya dibangun untuk melayani masyarakat transmigrasi asal Pulau Jawa dan masyarakat lokal yang datang ke kawasan tersebut sekitar 2009.
Baca Juga
Saat itu, kawasan tersebut diharapkan menjadi permukiman baru.
Namun kehidupan tidak selalu berjalan seperti rencana.