Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jambi saat itu, Kombes Pol Andri Ananta Yudhistira, mengatakan penyidik menghadapi kendala karena minimnya saksi yang mengetahui aktivitas terakhir korban sebelum menghilang.
Hingga pertengahan 2024, sebanyak 26 saksi telah diperiksa. Sejumlah saksi bahkan dimintai keterangan berulang kali untuk memperjelas rangkaian peristiwa sebelum korban ditemukan meninggal.
“Kendala kami adalah belum adanya saksi yang mengetahui secara pasti kapan korban keluar rumah hingga akhirnya ditemukan meninggal beberapa hari kemudian,” ujar Andri saat itu.
Polda Jambi bersama Polres Batanghari menyatakan penyelidikan tetap dilanjutkan meski hingga kini pelaku belum berhasil diungkap.
Baca Juga
Kematian Dedi Putra yang Penuh Kejanggalan
Kasus ketiga yang juga menjadi perhatian publik adalah kematian Dedi Putra (39), warga Desa Kasang Kumpeh, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi, yang ditemukan meninggal pada 19 Mei 2025.
Pada saat itu Dedi ditemukan tewas oleh kakanya Desy dengan keadaan mengenaskan, ia terbujur kaku diatas kasur dengan mata dan pundak mengalami lebam, serta luka di bagian belakang kepala.
“Sebenarnya pas Subuh ibu saya pulang dari masjid sudah melihat mata Dedi lebam. Tetapi ibu masih mendengar suara dengkuran, sehingga tidak berani mengganggu. Pagi harinya ibu menelepon saya dan memberi tahu kondisi adik saya,” ujar Desy, Minggu (14/9/2025) malam.
Baca Juga
Dedi kemudian dibawa ke Rumah Sakit DKT Jambi. Namun, tim medis memastikan korban telah meninggal dunia.
Keluarga mempertanyakan dugaan awal yang menyebut Dedi meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Menurut mereka, kondisi jasad korban tidak menunjukkan ciri-ciri korban kecelakaan.