OPINI

Kita Tidak Kekurangan Informasi, Kita Kekurangan Kemampuan untuk Berpikir

Penulis : Reza Valevi | Editor : Toni Sandra | 29 Juli 2026, 10:42 WIB
Kita Tidak Kekurangan Informasi, Kita Kekurangan Kemampuan untuk Berpikir
Keterangan Foto : Reza Valevi
OPINI OLEH: Reza Valevi
Kita hidup pada zaman ketika informasi tidak pernah sedekat ini. Dengan sebuah telepon genggam, seseorang dapat mengetahui berita dari berbagai belahan dunia hanya dalam hitungan detik. Informasi tentang politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, teknologi, hingga kehidupan para tokoh publik terus mengalir melalui media sosial. Persoalannya, di tengah informasi yang semakin melimpah, apakah manusia benar-benar semakin pintar?
Jawabannya tidak selalu demikian. Kita mungkin tidak lagi kesulitan menemukan informasi, tetapi justru menghadapi persoalan baru: terlalu banyak informasi yang harus dipilah. Setiap hari masyarakat berhadapan dengan ratusan bahkan ribuan potongan informasi yang muncul melalui layar. Ada berita, opini, video pendek, komentar, iklan, hingga informasi yang belum tentu memiliki dasar yang jelas. Pada titik tertentu, masalah kita bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kesulitan menentukan mana yang layak dipercaya.
Situasi tersebut membuat kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Informasi yang muncul di layar tidak otomatis menjadi kebenaran hanya karena dibagikan oleh banyak orang. Jumlah tayangan, tanda suka, dan komentar bukan ukuran mutlak bahwa sebuah informasi benar. Namun, budaya digital sering membuat popularitas seolah-olah menjadi bukti kebenaran. Sesuatu yang viral lebih mudah dipercaya, sementara informasi yang benar tetapi tidak menarik perhatian dapat dengan cepat dilupakan
Media sosial mempercepat persoalan tersebut. Algoritma dirancang untuk memberikan konten yang dianggap menarik bagi pengguna. Akibatnya, seseorang dapat terus melihat informasi yang sesuai dengan minat dan pandangannya sendiri. Lama-kelamaan, kita bisa berada dalam ruang informasi yang terasa nyaman karena hampir semua hal yang muncul mendukung apa yang sudah kita percaya. Padahal, berpikir kritis justru membutuhkan keberanian untuk melihat informasi yang berbeda.
Kita juga semakin terbiasa dengan informasi yang pendek dan cepat. Judul dibaca tanpa membuka isi berita, potongan video ditonton tanpa mengetahui konteksnya, dan sebuah pernyataan langsung dipercaya hanya karena disampaikan dengan percaya diri. Kebiasaan seperti ini membuat proses memahami persoalan menjadi semakin dangkal. Padahal, persoalan sosial tidak selalu bisa dijelaskan melalui video berdurasi beberapa detik atau satu kalimat yang menarik perhatian.
Fenomena tersebut menjadi semakin rumit ketika kecerdasan buatan atau AI ikut hadir dalam kehidupan sehari-hari. AI dapat membantu manusia mencari, merangkum, dan mengolah informasi dengan sangat cepat. Namun, kemudahan tersebut juga membawa tanggung jawab baru. Jika manusia menerima semua jawaban AI tanpa memeriksa sumber dan kebenarannya, teknologi yang seharusnya membantu berpikir justru dapat membuat manusia semakin jarang berpikir secara mandiri.
Di sinilah kita perlu membedakan antara memiliki informasi dan memahami informasi. Seseorang bisa mengetahui banyak hal dari internet, tetapi belum tentu memahami persoalan yang sedang dibicarakan. Mengetahui sebuah berita berbeda dengan memahami latar belakangnya. Membaca sebuah pendapat berbeda dengan mampu menilai argumennya. Menghafal informasi berbeda dengan mampu menggunakannya untuk mengambil keputusan.
Persoalan ini juga menjadi tantangan besar bagi generasi muda. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang penuh informasi dan teknologi, tetapi tidak semua informasi yang tersedia memiliki kualitas yang sama. Kemampuan menggunakan internet saja tidak cukup. Generasi muda juga membutuhkan kemampuan memeriksa sumber, membandingkan informasi, memahami konteks, dan mempertanyakan sesuatu sebelum mempercayai atau membagikannya.
Ironisnya, semakin mudah manusia memperoleh informasi, semakin besar pula godaan untuk berhenti mencari tahu. Kita sering merasa sudah mengetahui sesuatu hanya karena membaca satu unggahan atau menonton satu video. Padahal, pengetahuan membutuhkan proses yang lebih panjang: membaca, bertanya, membandingkan, meragukan, kemudian menarik kesimpulan. Di tengah dunia yang tidak pernah berhenti memberikan informasi, kemampuan untuk berhenti sejenak dan berpikir mungkin justru menjadi kemampuan yang paling berharga.