Sekber PSDH Jambi mencatat sedikitnya tiga kondisi yang perlu diwaspadai selama puncak kemarau.
Pertama, meningkatnya risiko kekeringan pada ekosistem gambut. Muaro Jambi, Tanjung Jabung Barat, dan Tanjung Jabung Timur dinilai perlu mendapat perhatian khusus karena memiliki bentang lahan gambut yang rentan terhadap kekeringan dan kebakaran.
Kedua, periode kering berpotensi membuat proses pemadaman semakin sulit. Lahan yang kehilangan kelembapan membuat api lebih cepat merambat.
Pada ekosistem gambut, persoalannya lebih rumit. Api tidak selalu terlihat di permukaan karena dapat menjalar dan membakar lapisan gambut di bawah tanah. Kondisi ini membuat pemadaman membutuhkan waktu dan penanganan lebih intensif.
Baca Juga
Ketiga, munculnya hotspot secara berulang di lokasi tertentu.
Menurut Feri, hotspot berulang harus menjadi dasar untuk meningkatkan patroli, melakukan pengecekan lapangan atau ground check, memetakan sumber api, sekaligus menelusuri penyebab kebakaran.
“Jangan hanya melihat jumlah hotspot. Yang lebih penting adalah seberapa cepat hotspot tersebut diverifikasi di lapangan dan ditindaklanjuti. Kecepatan ground check dan respons awal sangat menentukan,” katanya.
Data hotspot, menurut Sekber PSDH, seharusnya tidak berhenti sebagai angka pemantauan satelit. Setiap titik perlu segera diverifikasi untuk memastikan apakah merupakan kebakaran nyata, lokasi pembukaan lahan, atau sumber panas lainnya.
Baca Juga
Pemerintah daerah bersama aparat, perusahaan, dan masyarakat juga didorong memperkuat patroli serta sistem peringatan dini, terutama di kawasan gambut yang memiliki riwayat kebakaran.
Dengan puncak kemarau yang berlangsung pada Agustus-September, Jambi kini menghadapi waktu yang semakin sempit untuk memperkuat pencegahan. Sebab, ketika api telah membesar, biaya dan tingkat kesulitan pemadaman akan jauh lebih tinggi.