Persoalan akses jalan membuat petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membawa hasil kebun.
Ali Kitab (70), petani kopi di Desa Sungai Kuning, mengatakan kondisi jalan yang buruk membuat biaya pengangkutan meningkat.
“Iya, kita harus bayar upah ojek lagi kan untuk jual kopi. Kalau jalan sudah bagus, harganya juga bagus,” ujarnya.
Sebelum jalan diperbaiki, kendaraan pengangkut kerap terjebak di lubang dan lumpur. Saat hujan, sejumlah titik bahkan sulit dilalui kendaraan.
Baca Juga
Akibatnya, petani menggunakan jasa ojek sepeda motor untuk membawa hasil panen ke pengepul di desa tetangga.
Biayanya mencapai sekitar Rp 2.000 yang terkadang tembus hingga Rp 3.000 per kilogram.
Untuk membawa 100 kilogram hasil pertanian, petani harus mengeluarkan sekitar Rp 200.000 hingga Rp 300.000 hanya untuk ongkos angkut.
Beban tersebut belum termasuk selisih harga jual. Harga hasil pertanian di tingkat petani juga dapat berbeda sekitar Rp 3.000 per kilogram dibandingkan harga di pusat pasar kecamatan.
Baca Juga
Kondisi itu membuat akses jalan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan pendapatan petani.
Jalan 27 Kilometer Mulai Dibangun