JAKARTA, Gracak.com — Harga kopi dunia kembali bergerak di tengah tekanan pasar. Bagi konsumen, perubahan harga komoditas mungkin hanya terlihat di layar perdagangan. Namun bagi petani kopi Indonesia, pergerakan tersebut bisa menentukan seberapa besar pendapatan yang mereka bawa pulang.
Pertanyaannya sederhana: ketika harga kopi dunia melemah, apakah petani Indonesia juga akan ikut kehilangan pendapatan?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Harga kopi yang diterima petani di dalam negeri tidak secara otomatis mengikuti setiap perubahan harga di pasar internasional. Nilai tukar rupiah, kualitas biji, permintaan eksportir, stok, biaya transportasi hingga rantai perdagangan ikut menentukan harga yang akhirnya diterima petani.
Baca Juga
Data USDA Foreign Agricultural Service menunjukkan produksi kopi Indonesia pada musim 2025/26 diperkirakan mencapai 12,5 juta kantong berukuran 60 kilogram. Angka tersebut meningkat sekitar 18 persen dibandingkan musim sebelumnya, didukung oleh kondisi cuaca yang lebih baik, peningkatan penggunaan input pertanian serta perawatan tanaman.
Namun, peningkatan produksi tidak otomatis berarti kesejahteraan petani ikut meningkat.
Sebagian besar kopi Indonesia berasal dari perkebunan rakyat. USDA mencatat bahwa lebih dari 95 persen produksi kopi Indonesia berasal dari petani dengan rata-rata penguasaan lahan sekitar satu hektare.
Dalam laporan yang sama, USDA menyoroti kondisi petani kecil Indonesia.
Baca Juga
“Smallholder farmers, representing the majority of Indonesian coffee farmers, received increased margins in the last two years from higher coffee prices.”
Artinya, petani kecil yang merupakan mayoritas produsen kopi Indonesia memang memperoleh margin yang lebih besar dalam dua tahun terakhir karena harga kopi yang meningkat.