EKONOMI

Harga Kopi Dunia Mulai Tertekan, Petani Indonesia Siap Hadapi Dampaknya?

Penulis : Fadhlan | Editor : Nad | 14 Agustus 2026, 18:15 WIB
Harga Kopi Dunia Mulai Tertekan, Petani Indonesia Siap Hadapi Dampaknya?
Keterangan Foto : Gracak.com
Di sinilah persoalannya.
Ketika harga tinggi menjadi sumber keuntungan, apa yang terjadi ketika siklus harga berbalik?
Petani dengan lahan terbatas memiliki ruang yang relatif kecil untuk menyerap kenaikan biaya produksi. Pupuk, tenaga kerja, transportasi dan pemeliharaan tanaman tetap harus dibayar, terlepas dari apakah harga kopi sedang menguntungkan atau tidak.
Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk mempertahankan daya saing kopi. Sumatra menyumbang sekitar tiga perempat produksi kopi nasional dan kawasan Sumatra bagian selatan merupakan salah satu sentra utama Robusta.
Di sisi perdagangan, USDA memperkirakan ekspor green bean Indonesia pada musim 2025/26 mencapai 7,8 juta kantong, dengan pasar utama antara lain Uni Eropa, Amerika Serikat dan Mesir.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kopi Indonesia tetap memiliki pasar internasional yang besar.
Masalahnya adalah seberapa besar nilai dari pasar tersebut kembali ke petani?
Jika rantai perdagangan terlalu panjang dan petani memiliki posisi tawar yang lemah, kenaikan harga kopi dunia belum tentu sepenuhnya masuk ke kantong produsen di tingkat bawah.
Sebaliknya, ketika harga global turun, tekanan justru dapat lebih cepat terasa di tingkat petani jika pembeli menyesuaikan harga pembelian sementara biaya produksi tetap tinggi.
Karena itu, persoalan kopi Indonesia seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan mengenai harga hari ini.