JAMBI, Gracak.com - “Batang manau tumbuh berjalur, tumbuh rindang di tanah pusako. Tigo Luhah tempat berkumpul, adat dijunjung sepanjang maso.”
“Kecik umbak gedang umbak, kapal lalu ka muaro sakai. Adat idak, agamo idak, mano negeri mbuh selesai.”
Lantunan pantun tersebut menggema dari bibir para tetua adat Kerinci yang hadir membersamai 50 pemuda dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Kerinci, Jambi.
Pertemuan tersebut sengaja dilangsungkan untuk mempertahankan dan menghidupkan kembali kebudayaan masyarakat adat Kerinci terdahulu yang mulai terlupakan.
Baca Juga
Kegiatan ini digagas oleh tiga pemuda, yakni Mona Aprilia bersama Muhammad Alhuzaini dan Sandri Aldian. Mereka menyusun sebuah program penelitian dan revitalisasi budaya yang dirancang secara sistematis dengan melibatkan generasi muda.
Upaya tersebut mendapat dukungan pemerintah melalui Bantuan Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jambi, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
“Kegiatan ini untuk pertama kalinya mempertemukan kami dengan para tetua adat dan belajar langsung melantunkan Ngaji Adat, tradisi lisan warisan leluhur yang selama ini nyaris tidak kami kenal,” kata Mona Aprilia, Ketua Tim Peneliti, Kamis (3/9/2026).
Dari pertemuan yang dikemas dalam bentuk kajian tersebut, para pemuda diajak membuka kembali pengetahuan tentang sejarah dan kebudayaan adat yang diwariskan oleh leluhur.
Baca Juga
Dalam Ngaji Adat, terdapat praktik melantunkan bait-bait berirama yang menyimpan hukum adat, sejarah persukuan, dan falsafah hidup masyarakat Tigo Luhah Tanah Sekudung.
Tigo Luhah Tanah Sekudung merupakan wilayah hukum adat yang mencakup enam kecamatan di Kabupaten Kerinci.