“Setelah kita bangun kelompok tani, tentu kita tidak hanya menyuruh mereka menanam, tetapi juga menyiapkan pasar. Alhamdulillah telah terbentuk chain market hingga pasar ekspor,” kata Suriono, Sabtu (12/9/2026).
Hingga 2026, Alko telah memiliki jaringan ekspor ke 11 negara. Menurut Suriono, kepastian pasar menjadi faktor penting untuk mendorong petani terus mengembangkan tanaman kopi.
Selain membuka akses pasar, Alko juga mendorong penerapan konsep keberlanjutan, seperti agroforestri dan traceability. Penerapan konsep tersebut dinilai dapat menjadi nilai tambah bagi kopi yang dihasilkan petani.
“Harapannya tidak hanya menanam kopi, tetapi juga mulai peduli dengan sustainability, agroforestri, dan traceability. Itu nilai tambah yang bisa didapat petani,” ujarnya.
Baca Juga
Dalam satu tahun terakhir, Alko mencatat telah menyerap hampir 10.000 ton kopi dari petani di berbagai daerah penghasil kopi di Indonesia. Jaringan tersebut membentang dari Aceh hingga Flores dengan melibatkan sekitar 14.000 petani.
Kopi yang diserap terdiri atas Robusta dan Arabika. Sekitar 80 persen di antaranya merupakan kopi Robusta yang banyak berasal dari Lampung, Sumatera Barat, dan Bengkulu, termasuk Kerinci Jambi.
Khusus Kabupaten Kerinci, produksi kopi Arabika disebut mencapai sekitar 950 ton per tahun. Sementara produksi Robusta diperkirakan mencapai 8.000 ton per tahun.
“Kalau produksi kopi Kerinci, Arabikanya baru sekitar 950 ton per tahun. Kalau Robusta bisa sampai 8.000 ton,” kata Suriono.
Baca Juga
Dengan meningkatnya permintaan dan terbukanya akses pasar ekspor, pengembangan kopi Robusta Tebo dinilai memiliki peluang untuk terus diperkuat.
Namun, peningkatan produksi tetap perlu diikuti dengan pendampingan petani, penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas, serta penerapan praktik perkebunan berkelanjutan.