DAERAH

Kualitas Udara Palembang Memburuk, PM2.5 Tembus Level Berbahaya

Penulis : Danil Febriandi | Editor : Yanto | 05 Oktober 2026, 15:15 WIB
Kualitas Udara Palembang Memburuk, PM2.5 Tembus Level Berbahaya
Keterangan Foto : Kabut asap menyelimuti Palembang pada 5 Oktober 2026, seperti terlihat dalam video yang dibagikan warga melalui Threads. (Threads/@worky.i**).
PALEMBANG, Gracak.com - Kota Palembang tengah di kepung kabut asap, Kualitas udara Sumatera Selatan, kembali memburuk pada Senin, 5 Oktober 2026. 
Pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan konsentrasi partikulat halus PM2.5 di sejumlah titik telah masuk kategori berbahaya.
Data pemantauan BMKG pada pukul 08.00 WIB menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Stasiun Talang Betutu mencapai 648,5 mikrogram per meter kubik. Sementara itu, Stasiun Musi 2 mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 353,2 mikrogram per meter kubik.
Angka tersebut telah melampaui ambang kategori berbahaya, yakni lebih dari 250,5 mikrogram per meter kubik. Tingginya konsentrasi PM2.5 menunjukkan udara di sejumlah wilayah Palembang dalam kondisi tidak sehat untuk dihirup.
Kondisi serupa bahkan terjadi sehari sebelumnya. Pada Minggu, 4 Oktober 2026, pemantauan BMKG di Stasiun Musi 2 mencatat konsentrasi PM2.5 mencapai 903,6 mikrogram per meter kubik pada pukul 05.00 WIB.
Memburuknya kualitas udara ini terjadi ketika kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Asap dari titik-titik kebakaran kemudian terbawa ke wilayah Kota Palembang dan memperburuk kualitas udara.
Kondisi tersebut juga menjadi perhatian warga di media sosial Threads. Salah seorang pengguna dengan akun @angg****** mengeluhkan kenaikan indeks kualitas udara yang dipantaunya pada Senin pagi.
“Baru 1 jam lalu saya posting, AQI Palembang 1511. Sekarang sudah 1702. Pak Gubernur Herman Deru, gimana ini?” tulis akun tersebut dalam unggahannya pada 5 Oktober 2026.
Dalam unggahan yang sama, warga tersebut menyoroti kondisi udara yang menurutnya mulai dirasakan langsung oleh masyarakat. Ia juga mempertanyakan respons pemerintah terhadap kabut asap yang menyelimuti Palembang.
“Ini bukan angka di aplikasi. Ini udara yang sedang dihirup rakyat. BMKG sendiri sudah menyebut kualitas udara Palembang berada di level sangat berbahaya,” lanjutnya.