DAERAH

Ivan Wirata Minta Pemadaman Karhutla Jambi Diperkuat dari Darat, Bukan Hanya Operasi Udara

Penulis : Danil Febriandi | Editor : Sal | 11 Oktober 2026, 20:09 WIB
Ivan Wirata Minta Pemadaman Karhutla Jambi Diperkuat dari Darat, Bukan Hanya Operasi Udara
Keterangan Foto : Wakil Ketua I DPRD Provinsi Jambi, Ivan Wirata.
JAMBI, Gracak.com - Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi, Ir. H. Ivan Wirata, ST, MM, MT, menekankan perlunya memperkuat kemampuan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) melalui kesiapan personel, kendaraan operasional, dan peralatan yang mampu menjangkau lokasi kebakaran.
Menurut Ivan, operasi modifikasi cuaca (OMC) dan water bombing tetap diperlukan sebagai bagian dari penanganan Karhutla. Namun, kemampuan pemadaman darat harus menjadi prioritas karena petugas di lapangan berperan langsung dalam memadamkan api, membatasi penjalaran, dan memastikan proses pendinginan berjalan tuntas.
“Strategi kita harus jelas, Ground First – Air Support. Operasi udara tetap penting sebagai dukungan, tetapi kekuatan utama harus dibangun di darat,” demikian pernyataan Ivan dalam draf keterangannya.
Dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) penanganan Karhutla BPBD Provinsi Jambi Tahun Anggaran 2026, kebutuhan pengadaan kendaraan dan sarana mobilitas tercatat sekitar Rp6,715 miliar.
Pengadaan tersebut mencakup mobil tangki, kendaraan taktis pemadaman atau Fire Jeep, mobil komando, motor roda tiga, serta motor trail.
Selain itu, terdapat rencana pengadaan 32 unit pompa pemadaman dengan kapasitas 23 HP, 6 HP, dan 2 HP, dengan anggaran sekitar Rp4,158 miliar.
Peralatan pendukung lainnya meliputi selang pemadam, nozzle, alat pelindung diri (APD), mesin kapal, dua unit drone thermal, tenda pengungsi, dan velbed.
Ivan menegaskan, seluruh peralatan harus memiliki fungsi yang jelas dalam satu sistem operasi terpadu. Mobil tangki harus mendukung pasokan air, pompa harus sesuai dengan karakteristik medan, sedangkan motor trail diperlukan untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses kendaraan besar.
Drone thermal juga diharapkan membantu pemantauan titik panas dan mendukung identifikasi lokasi yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
“Ketika muncul titik api, personel dan peralatan harus segera bergerak, melakukan pemadaman, membatasi penjalaran, dan memastikan tidak terjadi penyalaan kembali,” ujarnya.