JAMBI, Gracak.com - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jambi memasuki fase kritis. Hingga semester pertama 2026, luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 137,72 hektare. Sebanyak 1.463 titik panas atau hotspot terdeteksi di seluruh provinsi.
Data tersebut dihimpun dari pemantauan satelit Aqua/Terra dan Suomi NPP selama Januari-Juni 2026. Angka itu menjadi peringatan menjelang puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung pada Agustus-September.
Sekretariat Bersama Pengelolaan Sumber Daya Hutan (Sekber PSDH) Provinsi Jambi meminta pemerintah tidak menunggu kebakaran meluas sebelum bertindak.
“Karhutla bukan persoalan satu institusi. Pemerintah, dunia usaha, masyarakat, aparat, dan seluruh pemangku kepentingan harus bergerak bersama. Kunci kita adalah pencegahan, deteksi dini, dan pemadaman sedini mungkin ketika api masih kecil,” kata Ketua Sekber PSDH Jambi, Feri Irawan, Selasa, 11 Agustus 2026.
Baca Juga
Sebaran hotspot menunjukkan ancaman karhutla tidak terkonsentrasi di satu daerah. Tanjung Jabung Barat menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 451 titik. Disusul Muaro Jambi 339 titik, Sarolangun 199 titik, Merangin 138 titik, dan Tanjung Jabung Timur 99 titik.
Hotspot juga terdeteksi di Tebo sebanyak 84 titik, Batanghari 71 titik, Bungo 53 titik, Kerinci 21 titik, Kota Jambi 7 titik, dan Sungai Penuh 1 titik.
Feri mengatakan kondisi tersebut membutuhkan respons lintas wilayah dan sektor. Apalagi Jambi memasuki periode yang diperkirakan menjadi puncak musim kemarau 2026.
Menurut dia, penguatan koordinasi harus dilakukan hingga tingkat tapak. Keterbatasan anggaran, kata Feri, tidak boleh menjadi alasan keterlambatan penanganan.
Baca Juga
“Jangan sampai keterbatasan tersebut menyebabkan respons kita terlambat. Karhutla harus dicegah sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih besar dan menimbulkan dampak sosial, ekonomi, kesehatan, serta lingkungan,” ujarnya.
Tiga Titik Rawan