JAMBI, Gracak.com – Senyum petani kopi dan kayu manis di Renah Pametik, Kabupaten Kerinci, Jambi, mulai mengembang. Jalan yang selama puluhan tahun menjadi persoalan kini perlahan berubah.
Di Desa Pasir Jaya, Desa Lubuk Tabung, dan Desa Sungai Kuning, Kecamatan Siulak Mukai, petani mulai merasakan akses yang lebih mudah untuk membawa hasil perkebunan keluar dari kawasan tersebut.
Dimana Renah Pametik merupakan kawasan permukiman yang dihuni sekitar 531 kepala keluarga atau 1.556 jiwa. Hampir seluruh masyarakat menggantungkan hidup dari kopi dan kulit kayu manis. Sebagian lainnya merupakan petani padi serta tanaman hortikultura seperti bawang dan cabai.
Bagi warga, jalan yang mulai diperbaiki bukan sekadar infrastruktur. Jalan menjadi penentu biaya angkut dan harga jual hasil kebun.
Baca Juga
Puluhan tahun lalu, kondisi tersebut jauh berbeda.
Warga harus berjalan kaki menembus hutan sambil memikul 30 hingga 40 kilogram kopi atau kulit kayu manis. Tidak jarang mereka harus beristirahat bahkan tidur di perjalanan sebelum sampai ke tempat penjualan.
Al Hatimin (67), warga Desa Lubuk Tabung, merupakan salah satu warga yang menyaksikan perubahan kawasan tersebut sejak awal.
Ia mengaku telah tinggal di kawasan itu sejak 1973, ketika Renah Pametik masih berupa hutan.
Baca Juga
“Saya sejak 1973 sudah di sini, masih hutan,” kata Al Hatimin saat ditemui di rumahnya, Jumat (7/8/2026).
Ongkos Ojek Rp 2.000 - 3.000 Per Kilogram