JAMBI, Gracak.com Kualitas udara di Kota Jambi memburuk akibat kabut asap yang menyelimuti wilayah tersebut. Berdasarkan data pemantauan partikel PM2.5 di Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Sultan Thaha Jambi, kualitas udara pada Jumat, 16 Oktober 2026, berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya. Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker untuk menjaga kesehatan.
BMKG mencatat, berdasarkan pemantauan sejak pukul 00.00 hingga 13.00 WIB, kualitas udara di Kota Jambi mengalami kondisi yang mengkhawatirkan. Kategori berbahaya terpantau pada pukul 00.00 hingga 05.00 WIB atau saat dini hari.
BMKG menjelaskan, kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi dipengaruhi oleh pergerakan angin dari wilayah tenggara menuju utara barat laut.
Petugas Prakirawan BMKG Kelas I Sultan Thaha Jambi, Nabila, mengatakan kabut asap masih berpotensi bertahan karena wilayah Jambi masih berada dalam periode musim kemarau. Sementara itu, potensi hujan yang signifikan belum terlihat.
Baca Juga
“Kami mengimbau kepada masyarakat untuk saat ini kita masih dalam periode musim kemarau, potensi hujan juga belum ada yang signifikan. Dapat kami katakan bahwa asap masih akan ada hingga kita benar-benar masuk ke dalam musim hujan,” ujar Nabila.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar menjaga kesehatan, menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, serta mengurangi kegiatan di luar rumah. Selain itu, masyarakat diminta menggunakan air secara bijak selama musim kemarau.
Di sisi lain, memburuknya kualitas udara mulai dirasakan warga Kota Jambi. Wahyu, seorang pengemudi ojek online (ojol), mengaku mengalami sesak dada dan mata perih akibat paparan kabut asap.
“Dada mulai sesak dan mata perih, sudah tiga bulan (kabut asap terjadi),” ungkap Wahyu.
Baca Juga
Kondisi tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap dampak kabut asap, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.
BMKG kembali mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan, menggunakan masker saat berada di luar rumah, serta membatasi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara belum membaik. Masyarakat juga diharapkan terus memantau informasi cuaca dan kualitas udara dari sumber resmi.