DAERAH

Ivan Wirata Pertanyakan Kesiapan Armada Udara Saat ISPU Muaro Jambi Berbahaya

Penulis : Danil Febriandi | Editor : Danil Febriandi | 28 Oktober 2026, 23:00 WIB
Ivan Wirata Pertanyakan Kesiapan Armada Udara Saat ISPU Muaro Jambi Berbahaya
Keterangan Foto : Wakil DPRD Provinsi Jambi, Ivan Wirata
JAMBI - Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi, Ivan Wirata, menyoroti kesiapan armada udara dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi. Evaluasi tersebut menyusul memburuknya kualitas udara dan masih ditemukannya titik kebakaran dalam patroli udara.
Berdasarkan laporan Satgas Karhutla pada 27 Oktober 2026, pesawat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang biasa melayani Jambi sedang bertugas di Kertajati, Jawa Barat, dan dijadwalkan kembali pada 28 Oktober.
Dari empat helikopter yang tercatat dalam laporan, satu unit tidak terbang karena menjalani perawatan. Sementara itu, satu helikopter lainnya berstatus siap, tetapi tidak tercatat menjalankan misi.
Ivan meminta pemerintah menjelaskan kesiapan dan penempatan armada udara, terutama ketika kualitas udara di sejumlah wilayah Jambi berada pada kondisi mengkhawatirkan.
“Kami tidak menyalahkan siapa pun. Tetapi publik perlu tahu mengapa pesawat OMC tidak berada di Jambi saat kualitas udara di Muaro Jambi masuk kategori Berbahaya. DPRD akan meminta penjelasan dan mengusulkan agar Jambi memiliki armada OMC yang siaga selama masa darurat,” ujarnya.
Dalam laporan yang sama, dua helikopter yang beroperasi tercatat melakukan 42 kali penjatuhan air dengan total volume mencapai 168.000 liter.
Meski demikian, pemadaman di sejumlah lokasi belum sepenuhnya menuntaskan kebakaran. Di Jebus, Kabupaten Muaro Jambi, sekitar 1,5 hektare berhasil dipadamkan dari kurang lebih 5 hektare lahan terbakar.
Sementara di Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, petugas berhasil memadamkan sekitar 3 hektare dari total kurang lebih 6 hektare lahan yang terbakar.
Petugas darat juga melaporkan keterbatasan sumber air akibat turunnya muka air tanah.
Menurut Ivan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla, khususnya di lahan gambut, membutuhkan strategi yang tidak hanya mengandalkan penjatuhan air dari udara.