INVESTIGASI

15 Perusahan Kepung Candi Muaro Jambi, Pemprov Lempar Tanggung Jawab

Penulis : Danil Febriandi | Editor : Yanto | 20 Juli 2026, 22:27 WIB
15 Perusahan Kepung Candi Muaro Jambi, Pemprov Lempar Tanggung Jawab
Keterangan Foto : Candi Muaro Jambi, (Grcaka.com).
JAMBI, Gracak.com – Balai Pelestarian Kebudayaan Jambi mengungkapkan 15 perusahaan terdeteksi beroperasi di kawasan zonasi Candi Muaro Jambi, berjajar di pinggir Selatan Sungai Batanghari.
Sebelumnya, mahasiswa Jambi menghadang Kunjungan Kerja Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka di Rumah Sakit (RS) Umum Raden Mattaher Jambi, melaporkan adanya aktivitas pertambangan yang beroperasi di wilayah tersebut. 
Mahasiswa mengatakan, Konflik di kawasan cagar budaya nasional (KCBN), ini telah berlangsung cukup lama. Mantan Presiden ke VII, Joko Widodo pernah meminta agar Kawasan tersebut bebas dari aktivitas pertambangan diantaranya Stockpile Batubara. 
Pamong Budaya Ahli Muda, Balai Pelestarian Kebudayaan Jambi, Novie Hari Putranto mengatakan, ada 15 perusahan yang beroperasi di lokasi tersebut, saat ini perizinan masih dilakukan pengecekan. 
“Lokasi ada 15 perusahaan tetapi sedang di cek dengan tata ruang PUPR. Di bagian Selatan Sungai Batanghari paling banyak,” katanya, Senin (20/7/2026).
Adapun denah lokasi dari Cagar Budaya yang memiliki luas sekitar 3.981 Hektar ini, di bagian Utara berbatasan dengan Sungai Berembang dan Desa Danau Lamo. Sisi Selatan, berbatasan dengan Desa Kemingking Dalam dan Desa Tebat Patah. Bagian Timur, Desa Teluk Jambu dan Desa Teluk Mudo. Di sisi Barat, berbatasan dengan Desa Danau Lamo dan Desa Baru.
Begitupun perusahan yang beroperasi bukan hanya Stockpile Batubara, melainkan ditemukan perusahan industri lain, seperti perusahaan pengolah kelapa sawit. 
“Dampaknya ya merusak lanskap, kan ada Sungai dan rawa di Kawasan tersebut,” bebernya. 
Ia mengakui, di dalam kawasan tersebut berkemungkinan terdapat sejumlah bahan banguan Candi, namun pihaknya tidak diperbolehkan memasuki wilayah tersebut. “Ya karena di wilayah itu, mereka yang punya,” paparnya. 
Begitu dengan, 15 perusahaan tersebut belum diketahui identitasnya secara pasti, lantaran perusahaan yang beroperasi di sejumlah titik tersebut tidak menetap atau kerap berganti.