“Berdasarkan analisis citra satelit Sentinel-2, kebakaran hutan dan lahan telah terjadi di tanah mineral seluas 4.195 hektare dan gambut 910 hektare. Sebanyak 264 hektare di antaranya berada di lahan gambut dengan kedalaman 200 hingga 300 sentimeter,” kata Adi.
Jika dilihat berdasarkan penggunaan dan pengelolaan lahan, kebakaran teridentifikasi terjadi di areal perkebunan kelapa sawit seluas sekitar 2.969 hektare.
Selain itu, kebakaran juga ditemukan pada areal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dengan luas mencapai sekitar 1.011 hektare.
Sementara itu, data yang dilaporkan Pemerintah Provinsi Jambi dan Satgas Karhutla kepada Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat melakukan kunjungan ke Jambi pada 25 Agustus 2026 menunjukkan angka yang berbeda.
Baca Juga
Dalam laporan tersebut, luas lahan terbakar di Jambi tercatat mencapai 916,26 hektare. Data itu merupakan akumulasi kebakaran sejak Januari hingga Agustus 2026.
Perbedaan angka antara data pemerintah dan hasil analisis KKI Warsi tersebut menunjukkan perlunya penjelasan lebih lanjut mengenai metode pendataan, periode pemantauan, serta cakupan wilayah yang digunakan.
Di tengah musim kemarau dan meningkatnya ancaman kebakaran, akurasi data menjadi penting untuk memastikan penanganan Karhutla di Jambi dilakukan secara tepat dan terukur.