JAMBI - Luas lahan yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi diperkirakan mencapai 5.185,52 hektare sejak 1 Januari hingga 29 Oktober 2026.
Angka tersebut bertambah sekitar 79,23 hektare dibandingkan laporan 26 Oktober. Seluruh penambahan luas kebakaran yang dilaporkan sebelumnya berasal dari Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi, Ivan Wirata, mendorong penguatan pengawasan melalui Panitia Khusus (Pansus) Karhutla DPRD Provinsi Jambi agar penanganan kebakaran berjalan lebih terukur dan berbasis data yang dapat ditelusuri.
Berdasarkan laporan terbaru, Kabupaten Batanghari menjadi wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar, yakni 1.470,70 hektare. Berikutnya Sarolangun dengan 958,25 hektare, Tanjung Jabung Timur 872,12 hektare, dan Muaro Jambi 652,70 hektare.
Baca Juga
Sementara itu, jumlah hotspot harian pada 28 Oktober dilaporkan nihil. Namun, akumulasi hotspot sejak awal tahun mencapai 18.433 titik.
Perbedaan antara jumlah titik panas, luas lahan terbakar, dan kondisi aktual di lapangan perlu ditelaah secara menyeluruh. Deteksi satelit tidak selalu identik dengan kejadian kebakaran yang telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan langsung.
Karena itu, pengawasan Pansus perlu mencakup rekonsiliasi data luas lahan terbakar, pencocokan koordinat hotspot dengan lokasi kejadian, serta pemeriksaan batas kawasan yang terdampak.
Laporan operasi pemadaman juga perlu dievaluasi. Hingga 29 Oktober, Satgas mencatat satu titik pemadaman, lima titik pendinginan, dan satu titik dinyatakan selesai ditangani atau clear.
Baca Juga
Sementara itu, operasi udara dilaporkan melakukan 28 kali penjatuhan air atau water bombing dengan total volume 112.000 liter.
Data tersebut perlu dilengkapi dengan lokasi operasi, hasil pemadaman, kesiapan armada, ketersediaan sumber air, serta pemeriksaan ulang untuk memastikan api tidak kembali muncul.