Ironisnya, pihak yang memperoleh keuntungan dari tambang belum tentu hidup di tepian sungai.
Sebaliknya, masyarakat yang tidak pernah ikut menambang bisa menjadi pihak yang paling lama menanggung akibat. Sungai tidak mengenal siapa pemodal dan siapa operatornya. Sungai hanya membawa dampak dari apa yang dilakukan manusia.
Jika Semua Tahu Siapa yang Tidak Bertindak?
Pemerintah tahu bahwa persoalan pertambangan ilegal masih menjadi masalah. Aparat mengetahui adanya operasi dan penindakan terhadap sejumlah pelaku. DPRD menyoroti, aktivis mengingatkan, dan media terus memberitakan. Operasi dilakukan, pelaku ditangkap, dan mesin dimusnahkan.
Baca Juga
Namun setelah semua itu dilakukan, aktivitas PETI kembali muncul. Maka pertanyaannya tidak lagi apakah PETI masih ada. Jawabannya sudah jelas: aktivitas tersebut masih ditemukan di sejumlah wilayah. Pertanyaan sebenarnya adalah mengapa ia selalu menemukan jalan untuk kembali.
Apakah karena kemiskinan dan minimnya lapangan pekerjaan? Apakah karena lemahnya pengawasan dan penegakan hukum? Apakah karena adanya jaringan pemodal dan pasar emas yang terus terbuka? Atau ada sesuatu yang lebih besar yang belum benar-benar disentuh?.
Jangan Biarkan Hukum Hanya Mengenal Tangan, Tetapi Tidak Mengenal Otak
Orang yang berada di atas mesin dapat ditangkap dan diperiksa. Namun, siapa yang mengirimnya dan siapa yang membiayai kegiatannya?
Baca Juga
Orang yang membawa emas dapat diperiksa dan dimintai keterangan. Tetapi siapa pembelinya dan ke mana hasil transaksi tersebut mengalir?
Rakit dapat dihancurkan dan lokasi dapat ditutup.
Namun, siapa yang menyediakan modal agar semuanya bisa kembali beroperasi?
Namun, siapa yang menyediakan modal agar semuanya bisa kembali beroperasi?